Tuesday, 28 February 2017

Hai...

Hai...

Hai.. Lama tak jumpa.
Tahu kah kamu, aku disini selalu menanti kepulanganmu. Terkadang, jari-jariku gatal sekali ingin menanyakan kabarmu. Tapi aku terlalu takut, takut mengganggumu.
Hai.. Aku rindu.
Entah sudah berapa banyak rindu ini terbuang sia-sia. Untung saja merindukanmu tidak mengeluarkan biaya, bisa-bisa aku jadi miskin seketika.
Hai.. Datanglah. 
Setiap saat. Tak henti. Tak ada jeda. Dalam pikiranku selalu membayangkan hidup bersamamu. Menyedihkan memang. Tapi itulah kenyataannya, hidupku terlalu menyedihkan tanpamu.
Hai.. Temui aku.
Untuk sekali saja. Berusahalah membahagiakan aku. Tanpa terpaksa, dengan sukarela. Seperti saat kamu membahagiakan dia yang kamu cintai.
Hai.. Terimakasih ya.
Kamu pasti bingungkan? Untuk apa aku berterimakasih kepadamu. Jawabannya mudah sekali. Karena tanpa kamu sadari, aku bahagia melihat senyummu. Aku bahagia melihat kesederhanaanmu. Aku bahagia menerima kebaikanmu, tanpa pamrih.
Hai.. Masih bingungkah?
Tuhan.. Aku kehabisan kata-kata jika berbincang denganmu. Maaf waktu itu jawabanku kurang memuaskan. Itupun aku gemetar membalas pertanyaanmu.
Hai.. Kamu.
Aku tahu, kamu hanya tak ingin aku kecewa. Kamu sama sekali tidak memberikan harapan. Aku tahu itu. Tapi sudahlah, aku masih belum menyerah untuk mencintai kenangan tentangmu.
Hai.. Balaslah.
Aku mohon, jika kamu sudah membaca ini. Sempatkanlah untuk membalas. Sepatah duapatah kata pun tak apa. Aku begitu paham, kamu tak memiliki waktu banyak untuk menerimaku.
Hai.. Ku mohon.
Itupun jika kamu rela, temui aku. Sedetik aku melihatmu. Sekedar melihat senyummu, hati nelangsa ini mungkin akan kembali terpenuhi. Temui aku, temui aku. Akan aku jelaskan semua tentang perasaan yang telah tumbuh dari tiga tahun yang lalu. Akan aku tunggu diujung penantian.

Aku tunggu.
Semoga kamu tidak mengecewakan.
Credit : Nindhita Dwi
Read More